31/10/2019)  Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Pemkab Bogor, Polres Bogor, serta stakeholder terkait lainnya sepakat untuk menangguhkan uji coba kedua Sistem 2-1 Jalur Puncak yang rencananya akan dilaksanakan pada 3 November 2019. Uji coba tahap kedua diperkirakan akan dilakukan kembali pada akhir November atau awal Desember 2019. Kesepakatan ini diputuskan melalui rapat evaluasi bersama terhadap kegiatan uji coba pertama Sistem 2-1 Jalur Puncak yang telah dilakukan pada tanggal 27 Oktober 2019 mulai dari Simpang Gadog hingga Taman Safari Indonesia. Rapat evaluasi dilakukan pada Kamis, 31 Oktober 2019 mulai pukul 09.30 wib  di Kantor Bupati Bogor.

Pertimbangan penangguhan dimaksudkan mengingat pemecahan permasalahan atas temuan-temuan pada uji coba tahap pertama membutuhkan proses dan waktu sampai dipandang kondisi di lapangan memungkinkan untuk dilakukan uji coba kembali. Berdasarkan hasil evaluasi diperoleh beberapa temuan seperti terganggunya kapasitas jalan yang menyangkut kondisi lebar jalan yang tidak sama. Selain itu terdapat pula hambatan samping diantaranya aktifitas PKL yang tidak pada tempatnya, parkir di badan jalan, dan angkutan umum yang berhenti di sembarang tempat. Namun demikian jika nantinya jalan selesai diperlebar dan menjadi homogen tetapi hambatan samping tidak tertangani, maka kapasitas jalan yang tersedia tetap akan terganggu. Untuk itu sebelum uji coba kedua dilaksanakan, masing-masing stakeholder akan berupaya untuk memecahkan masalah sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

Hasil evaluasi juga menunjukkan jika pada saat uji coba pertama volume kendaraan di Jalur Puncak mengalami peningkatan sebanyak 5% dari volume kendaraan pada pekan sebelumnya. Hal ini diduga adanya animo masyarakat untuk mencoba memanfaatkan Jalur Puncak melalui Sistem 2-1 pada saat uji coba diberlakukan, sehingga pada saat ujicoba berlangsung volume/capacity ratio diperkirakan mencapai lebih dari 0,97.  Pada level tersebut, volume lalu lintas mendekati atau berada pada kapasitas arus tidak stabil dan terkadang berhenti.  Tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah perilaku pengguna jalan yang tidak kooperatif seperti tidak mematuhi aturan, bermanuver keluar lajur, hingga menabrak traffic cone. Hal tersebut turut mempengaruhi pola pergerakan pada uji coba Sistem 2-1.

Pembahasan pada rapat evaluasi juga memunculkan perlunya fokus perhatian tidak hanya dipusatkan pada uji coba sistem 2-1, namun juga pada upaya lain khususnya yang menyangkut pengurangan volume lalulintas.  Hal ini mengingat pada dasarnya penanganan masalah kemacetan lalu-lintas tidak pernah efektif  hanya dengan mengandalkan satu pendekatan saja. Merujuk pada program Save Puncak, sebenarnya telah dirumuskan langkah-langkah penanganan permasalahan transportasi di Kawasan Puncak yang terbagi dalam tahapan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang termasuk pendekatan yang bersifat mengurangi volume lalu-lintas di dalamnya. Pembahasan juga membuka kemungkinan pelibatan pendekatan-pendekatan yang selama ini belum termasuk di dalam bagian rencana yang sudah dirumuskan untuk memecahkan permasalahan transportasi di Kawasan Puncak.

 

Mengakomodir Kepentingan Masyarakat Setempat

Uji coba Sistem 2-1 merupakan alternatif manajemen rekayasa lalu lintas yang dirumuskan dengan mengakomodir aspirasi masyarakat dan diputuskan bersama segenap stakeholder setelah melalui 9 kali rapat pembahasan.  Sejak semula telah disampaikan bahwa implementasi sistem ini tidak serta merta mengurangi kemacetan kronis yang terjadi di jalur puncak selama ini. Hal ini mengingat sistem ini lebih fokus pada mencari alternatif untuk memberikan ruang aksesibilitas 2 arah khususnya kepada masyarakat sekitar puncak yang selama ini aktifitas dan mobilitasnya terganggu karena sistem buka tutup (one way system) yang sudah berlangsung lama.

Uji coba Sistem 2-1 ini juga merupakan bagian dari usulan jangka pendek penanganan transportasi jalur Puncak. Upaya lain yang termasuk dalam kerangka jangka pendek diantaranya adalah penyediaan program wisata ke puncak dengan angkutan umum massal point to point dari Jakarta ke berbagai tempat wisata di Puncak , penyediaan shuttle service dan Park & Ride menuju Jalur Puncak, sosialisasi jalur alternatif (menjelang exit Cibubur), percepatan pelaksanaan pelebaran jalan dari Gadog – Puncak, dan percepatan pembangunan rest area di Gunung Mas.

Program wisata dengan angkutan umum massal poin to point telah diluncurkan pada tanggal 28 September 2019 dengan operator Big Bird. Layanan wisata yang ditawarkan adalah paket perjalanan dari Pasaraya Blok M menuju Taman Safari Indonesia. Dengan tarif 400 ribu rupiah, paket tersebut sudah termasuk tiket PP, tiket masuk wisata Taman Safari Indonesia, dan makanan ringan.

Sementara itu secara keseluruhan program pembenahan kemacetan di puncak terbagi juga dalam tahapan kerangka jangka menengah dan panjang, yang disebut dengan program “save puncak”. Program dalam kerangka jangka menengah adalah penyediaan jalur alternatif melalui Sentul (Poros Tengah Timur) dan pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Sementara itu dalam kerangka jangka panjang akan diusulkan pengembangan alternative transportasi massal berbasis rel dari Kota Bogor menuju Kawasan Puncak.