Tangerang Selatan, 5 Maret 2019 – Pasca peresmian pengoperasian Terminal Tipe A Pondok Cabe, Tangerang Selatan, yang dilakukan pada 31 Desember 2018 lalu, pembenahan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat di terminal tersebut terus berlangsung. Setidaknya terdapat 33 operator bus di Terminal Pondok Cabe dengan layanan tujuan beberapa kota di Jawa Tengah, Jawa Timur maupun Yogyakarta.

Untuk mempermudah masyarakat mengakses terminal Pondok Cabe telah dibuka pula layanan bus transjakarta menuju terminal tersebut. Tidak hanya itu, sejak diresmikan masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan angkutan umum massal Jabodetabek Airport Connexion untuk menuju bandar udara Soekarno Hatta.

Namun dalam proses perjalanannya, belum banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan Terminal Pondok Cabe. Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Bambang Prihartono menyampaikan perlu upaya bersama agar operasional Terminal Pondok Cabe berjalan optimal. “ Bus-bus Antar Kota Antar Provinsi secara reguler sudah beroperasi melalui terminal ini, dari sisi terminal, selain fasilitas, kita juga terus meningkatkan layanan kepada masyarakat”, kata Bambang. Kepala BPTJ juga  menyampaikan bahwa langkah optimalisasi operasional Terminal Pondok Cabe telah disusun, namun dalam implementasinya perlu dilakukan bersama, termasuk dengan Pemerintah Daerah.

“Kita sudah siapkan timeline-nya dan dalam pelaksanannya perlu keterlibatan semua pihak”, ujar Bambang. Lebih jauh dijelaskan pula bahwa langkah optimalisasi pengoperasian terminal Pondok Cabe antara lain terdiri dari pemindahan secara bertahap operasional pool ke dalam terminal Pondok Cabe, mewajibkan bus-bus untuk masuk terminal hingga peningkatan kinerja ruas Jl. K.H. Sahlem melalui manajemen rekayasa lalu lintas di ruas dan simpang.

“BPTJ tidak bisa melaksanakan kegiatan yang telah kita susun timeline-nya tersebut sendiri, perlu dukungan serta keterlibatan rekan-rekan dari Dinas Perhubungan Kota Tangerang Selatan, Kepolisian, Satuan Polisi Pamong Praja dan juga Direktorat Jenderal Perhubungan Darat”, jelasnya. Bambang menambahkan pula bahwa dukungan serta keterlibatan juga dibutuhkan dari Dinas Perhubungan Provinsi Banten, Provinsi Jawa Barat, dan Kota Depok dalam melakukan penataan layanan angkutan kota. “Untuk mengawal jadwal kegiatan yang telah ditetapkan, koordinasi dilakukan secara intens termasuk dengan melibatkan rekan-rekan operator Bus”, ujar Bambang.

Produksi penumpang Terminal Pondok Cabe pada bulan Februari menunjukkan bahwa terdapat 646 Bus Angkutan Kota Antar Provinsi dengan 1232 kedatangan penumpang dan 1171 keberangkatan penumpang. Adapun pada bulan Januari, Terminal Pondok Cabe mencatat 671 Bus dengan melayani 1315 kedatangan penumpang dan 1358 keberangkatan penumpang.

 

Momentum Operasional Tol Trans Jawa

Beroperasinya tol trans jawa memberikan peluang besar bagi layanan bus antar kota di jawa untuk menjadi pilihan angkutan antar kota yang lebih dapat dihandalkan oleh masyarakat. Salah satu faktor yang menyebabkan adalah waktu tempuh yang lebih singkat serta on time performance yang lebih pasti, sehingga dapat bersaing dengan moda kereta api bahkan pesawat terbang. “Momentum ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan terus meningkatkan pelayanan baik dari sisi pelayanan busnya sendiri maupun pelayanan terminal,”  jelas Bambang.

Menurut Bambang pelayanan terminal dan pelayanan bus oleh PO merupakan satu kesatuan yang harus saling mendukung, jika keduanya baik dan dapat diandalkan maka dengan sendirinya masyarakat akan datang  ke terminal untuk memanfatkan angkutan bus antar kota. “Jika pelayanan terminal bagus, tersedia angkutan kota untuk mengakses namun pelayanan bus nya tidak dapat diandalkan masyarakat tentu enggan ke terminal, begitu pula sebaliknya pelayanan bus bagus terminalnya berantakan dan susah diakses masyarakat juga tidak akan datang ke terminal,” tambah Bambang.

Apabila semua stakeholder yang terkait dengan pelayanan bus dan terminal mau bekerja keras bahu membahu menyajikan pelayanan terbaik Bambang meyakini akan timbul perubahan mind set di kalangan masyarakat. “Jika masyarakat sudah merasakan benefitnya, pasti akan terbentuk sendiri kebiasaan bahwa untuk naik bus antar kota ya harus ke terminal, seperti halnya kalau mau naik kereta harus ke stasiun dan ke bandara jika menggunakan angkutan udara,” tutup Bambang.