(Jakarta, 20/5/2019) Kebijakan satu arah ( one way ) di jalan tol Japek – Brebes, rencananya akan diimplementasikan untuk mengatasi kepadatan yang terjadi saat arus mudik, demikian pula untuk arus balik ( Palimanan – Japek ). Sebagai salah satu daerah bangkitan pergerakan masyarakat pada saat mudik, dan tujuan sebagian besar masyarakat pada arus balik nanti, diperlukan upaya untuk dapat mengelola pergerakan masyarakat. Pemanfaatan ATCS ( Area Traffic Control System) menjadi salah satu alternatif yang akan digunakan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) dalam mengelola pergerakan kendaraan, baik yang akan menuju pintu-pintu tol, maupun yang memilih memanfaatkan jalan-jalan nasional di Jabodetabek dalam perjalanan mudik maupun balik lebaran.

Kepala BPTJ, Bambang Prihartono mengatakan melalui pemanfaatan ATCS atau Sistem Kendali Lalu Lintas Kendaraan ini, arus lalu lintas pada suatu persimpangan dapat dimodifikasi siklus lalu lintasnya untuk mengurangi jumlah tundaan yang terjadi pada persimpangan tersebut. “Akan kita pantau terus nanti melalui control room “, kata Bambang. “Sehingga ketika terjadi antrian panjang, kita bisa ubah siklusnya supaya sirkulasi kendaraan di simpang yang mengalami antrian panjang dapat terurai”, jelas Bambang.

Bambang menyampaikan jika hingga saat ini, setidaknya terdapat 54 lokasi titik simpang di jalan nasional yang telah dilengkapi dengan Sistem Kendali Lalu Lintas kendaraan ini. Selain itu, sistem ATCS BPTJ juga terintegrasi dengan CCRoom Dishub Kota Bekasi, Kota Depok, Kota Bogor dan CCRoom Dishub Kabupaten Bogor. “Melalui ATCS akan kita atur supaya tidak terjadi hambatan pada saat arus kendaraan para pemudik melintas di jalan nasional di Jabodetabek”, tekan Bambang. Lebih lanjut Bambang mengatakan melalui pemanfaatan ATCS ini diharapkan nantinya tidak hanya dapat mengatur arus kendaraan di jalan nasional, namun juga dapat mengelola arus kendaraan yang hendak menuju pintu-pintu tol melalui ATCS yang terdapat di simpang-simpang jalan nasional terdekat.

Bambang memperkirakan jika mengacu pada beberapa pengalaman pelaksanaan angkutan lebaran, kepadatan arus kendaraan juga akan terjadi pada titik-titik masuk wilayah Jabodetabek. “Pengaturan tetap memperhatikan kendaraan-kendaraan dari timur yang akan masuk Jabodetabek pada saat mudik lebaran begitu pula nanti pada saat arus balik,” ungkap Bambang. Namun demikian Bambang menyampaikan jika pengaturan tersebut tidak berlaku jika ada petugas dilapangan.

Kesiapan Sarana dan Prasarana Angkutan Umum di Jabodetabek.

Tidak hanya terkait pengaturan arus lalu lintas melalui pemanfaatan ATCS di simpang-simpang jalan nasional, BPTJ juga mempersiapkan layanan terminal tipe A yang berada dibawah pengelolaannya. Saat ini terdapat 4 (empat) terminal tipe A yang berada dibawah pengelolaan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, yakni Terminal Jatijajar, Depok, Terminal Pondok Cabe, Tangerang Selatan; Terminal Poris Plawad, Tangerang dan Terminal Baranangsiang, Bogor. Beberapa bus AKAP yang beroperasi melalui keempat terminal tersebut mulai tanggal 30 April s.d. 26 Mei 2019 nanti harus melewati inspeksi keselamatan yang diselenggarakan bersama oleh BPTJ, Dinas Perhubungan setempat serta Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.

Tidak hanya pada keempat terminal yang dibawah pengelolaan BPTJ, kegiatan inspeksi keselamatan sarana angkutan umum massal juga dilakukan pada beberapa terminal tipe A di Jabodetabek seperti Terminal Bekasi, Terminal Kalideres, Terminal Tanjung Priok, Terminal Pulogebang, Terminal Kampung Rambutan serta beberapa pool bus.

Hasil survey home interview oleh Badan Litbang Kemenhub menggambarkan bahwa pada tahun 2019 ini pemudik dari Jabodetabek diprediksi sebanyak 14.901.468 orang. Dari jumlah tersebut, 37,68% atau sejumlah 5.615.408 orang memiliki tujuan Jawa Tengah. Adapun pemudik dari Jabodetabek dengan tujuan Jawa Barat sebanyak 24,89% atau 3.709.049 orang. Untuk tujuan Jawa Timur terdapat 11,14% atau sekitar 1.660.625 pemudik. Untuk modal share pemudik Jabodetabek sebanyak 30% atau 4.459.690 orang menggunakan bus dan  28,9% atau sebanyak 4.300.346 orang memanfaatkan mobil pribadi.  

Selanjutnya sebanyak 16,7% atau sekitar 2.488.058 masyarakat Jabodetabek mudik memanfaatkan layanan kereta api, dan pesawat sejumlah 9,5% dengan 1.411.051 orang serta sepeda motor dengan persentase 6,3 atau sebanyak 942.621 orang.