(03/08/2021) Pembangunan Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) di kawasan Dukuh Atas Jakarta Pusat direncanakan akan menggunakan skema bundling dengan revitalisasi Stasiun KRL Sudirman. Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan Polana B Pramestri menyebutkan bahwa keputusan tersebut diambil setelah hasil kajian merekomendasikan bahwa opsi pembangunan JPM saja ternyata kurang menarik investor. "Jadi  diputuskan bahwa pembangunan JPM Dukuh Atas satu paket bundling dengan revitalisasi Stasiun KRL Sudirman, namun dalam prosesnya pembangunan JPM akan didahulukan menyusul kemudian revitalisasi Stasiun KRL Sudirman," jelas Polana.

JPM Dukuh Atas nantinya akan menghubungkan Stasiun LRT Setiabudi dengan Stasiun KRL Sudirman melewati sungai Ciliwung. Secara tidak langsung pembangunan JPM Dukuh Atas jika terwujud sekaligus juga akan menghubungkan dengan Stasiun BNI yang melayani Kereta Bandara. Pembangunan JPM Dukuh Atas menurut Polana sepenuhnya diupayakan menggunakan pembiayaan swasta. "PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ) selama ini telah ditunjuk untuk merealisasikan proses bagaimana pelibatan pembiayaan swasta untuk merealisasikan proyek ini," kata Polana. Lebih lanjut Polana menambahkan bahwa JPM Dukuh atas diharapkan sudah selesai terbangun pada pertengahan tahun 2022, guna mendukung operasional LRT Jabodebek. Keberadaan JPM ini juga akan semakin mengukuhkan kawasan Dukuh Atas sebagai kawasan integrasi antarmoda perkotaan yang lengkap dan efisien.

Sesuai tugas dan fungsi serta kewenangan BPTJ telah pula melakukan berbagai langkah koordinatif untuk mempercepat realisasi pembangunan JPM Dukuh Atas. " Kami telah mengirim surat resmi kepada Direktur Jenderal Perkeretaapian untuk mendukung percepatan rencana pembangunan JPM Dukuh Atas ini mengingat Stasiun KRL Sudirman merupakan asset dibawah kewenangan mereka. Demikian pula surat senada telah kami sampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta yang memiliki kewenangan atas wilayah TOD Dukuh Atas secara keseluruhan," urai Polana. Selain itu menurut Polana BPTJ juga telah membentuk Tim Percepatan Pembangunan JPM tersebut dengan melibatkan Ditjen Perkeretapian Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, Pemprov DKI Jakarta, PT Kereta Api Indonesia (Persero) serta PT MRT Jakarta.

 

Wujud Integrasi Layanan Transportasi

Inisiasi penyediaan fasilitas integrasi layanan transportasi berawal dari tinjauan lapangan proyek LRT Jabodebek Lintas Pelayanan 2 Cawang-Kuningan-Dukuh Atas oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi pada 29 November 2020. Turut hadir pada kegiatan tersebut antara lain Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo, pejabat dari PT Adhi Karya, PT KAI, PT MRT Jakarta dan PT Transjakarta Adapun dari Kemenhub ada Direktur Jenderal Perkeretaapian dan Kepala BPTJ.

Pada kesempatan tersebut, Menhub menyampaikan bahwa seluruh pemangku kepentingan terkait sepakat untuk membuat integrasi transportasi, sehingga penumpang angkutan umum termasuk dari daerah penyangga, bodetabek bisa berpindah angkutan dengan lebih mudah dan dekat, misalnya berpindah dari KRL ke LRT, MRT maupun Transjakarta. Hal ini, menurut Budi mengingat Dukuh Atas merupakan TOD yang terdapat paling banyak titik-titik stasiun. seperti stasiun KRL, Stasiun Kereta Bandara, dan Stasiun LRT.