Masyarakat Jakarta Raya yang tersebar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) menyambut riang-gembira dan menganggap positif kebijakan pengaturan mobil bernomor plat ganjil genap, sesuai tanggal. Pemberlakuan aturan tersebut sekaligus memberi kenyamanan bagi pengguna transportasi umum massal

Ryan, seorang pegawai swasta, misalnya. Ia memiliki setidaknya empat alasan sehingga memilih menggunakan transportasi umum massal. “Dengan adanya ganjil genap saya lebih senang dengan transportasi umum. Karena lebih cepat, aman, nyaman, dan pasti selamat sampai tujuan,” ungkap Ryan.

Erwin, juga pekerja swasta mengemukakan alsan senada. Iamengaku merasa nyaman menggunakan transportasi massal, karena terasa lebih cepat mengantar hingga ke tengah kota.

Pakar transportasi Dharmaningtyas mendukung upaya pemerintah dalam mendorong minat masyarakat khususnya yang tinggal Jabodetabek untuk menggunakan layanan transportasi umum massal. Pengimplementasian kebijakan ganjil genap, menurutnya, bertujuan agar masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih memanfaatkan angkutan umum massal. Kebijakan ganjil genap ini dibuat tidak hanya untuk mengatasi kemacetan, tetapi juga untuk mengajak masyarakat menggunakan angkutan umum untuk beraktivitas sehari-hari.

“Target dari (kebijakan) ganjil genap kemacetan bisa sedikit terurai, lalu penurunan emisi CO2, dan kemudian juga terjadi peningkatan jumlah penumpang angkutan umum,” ungkap Dharmaningtyas.

Implementasi kebijakan akan kendaraan bermotor bernomor plat ganjil genap guna mendorong terwujudnya masyarakat berbudaya public transport minded, mulai menampakkan hasilnya. Kebijakan yang diberlakukan pada beberapa ruas jalan arteri di DKI Jakarta serta di beberapa pintu tol di Jabodetabek oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), selain dapat mengurangi kemacetan juga tercatat mampu mendorong minat masyarakat untuk mulai beralih menggunakan angkutan umum massal.

Kepala BPTJ Bambang Prihartono menyampaikan beberapa layanan angkutan umum yang disediakan sejalan dengan implementasi ganjil genap di pintu tol jumlahnya terus bertumbuh. 

“Implementasi ganjil genap di beberapa pintu tol ini tujuannya untuk mendorong masyarakat supaya mau meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan angkutan umum massal. Konsekuensi dari implementasi ganjil genap di pintu tol ini, kita wajib menyediakan layanan angkutan umum massal bagi masyarakat,” ungkap Bambang.

Penggunaan angkutan umum massal seiring dengan implementasi paket kebijakan penanganan kemacetan di Tol Jakarta – Cikampek, Jakarta – Bogor – Ciawi (Jagorawi) dan Jakarta – Tangerang menunjukkan peningkatan. Pada Maret 2018 layanan angkutan umum massal TransJabodetabek Premium melayani 24.171 penumpang, namun pada bulan September terjadi peningkatan signifikan menjadi 71.424 penumpang.

Kebijakan ganjil genap yang diberlakukan pada beberapa ruas jalan arteri di DKI Jakarta juga mencatatkan hasil positif terkait penggunaan angkutan umum massal. Peningkatan siginifikan terjadi di Juli 2018. Data pengguna angkutan umum massal TransJakarta pada bulan Juni tercatat sebanyak 11.942.791. Sedangkan pada bulan Juli, TransJakarta melayani penumpang sebanyak 16.318.254.

Ganjil genap dan Asian Games 2018

Pada saat Asian Games 2018 yang berlangsung pada bulan Agustus, masyarakat yang beralih menggunakan angkutan umum massal TransJakarta semakin bertambah. Tercatat sebanyak 18.134.857 penumpang menggunakan layanan TransJakarta. Jumlah penumpang tersebut terus bertahan dan cenderung naik hingga sekarang.

Selain meningkatkan  jumlah penumpang angkutan umum, kebijakan ini juga dirasakan manfaatnya oleh Sekretaris Jenderal INASGOC Eris Herryanto. Ia menyebutkan pihaknya diminta untuk memenuhi ketentuan waktu 30 menit. Dikarenakan 36 dari 40 cabang olahraga setiap hari akan disiarkan langsung sehingga mereka dituntut untuk tepat waktu menghadirkan para atlet di venue pertandingan.

“Dengan adanya pengaturan baik itu ganjil-genap, line khusus untuk Asian Games, pembukaan maupun penutupan beberapa pintu tol sangat membantu kami dan sudah kita rasakan bagaimana situasi lalu lintas di Jakarta akan sangat membantu kami di dalam membawa atlet ke venue sesuai dengan waktu yang ditentukan,” ungkap Eris Herryanto.

 

Mendekat ke masyarakat

BPTJ juga memperluas penyediaan layanan angkutan permukiman atau Jabodetabek Residence Connexion (JR Connexion) dan angkutan menuju bandar udara atau dikenal dengan Jabodetabek Airport Connexion (JA Connexion) sebagai upaya umenumbuhkan minat masyarakat untuk memanfaatkan angkutan umum massal.

Kehadiran JA Connexion dan JR Connexion ini bertujuan untuk mendekatkan layanan angkutan umum massal dengan masyarakat. BPTJ berharap faktor kedekatan dan kemudahan akses mampu membuat masyarakat beralih menggunakan layanan angkutan umum massal.  

Langkah-langkah yang dilakukan dalam mendorong minat masyarakat untuk menggunakan angkutan umum diatas sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek.