(Jakarta, 9-10-19) Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek meluncurkan 2 (dua) layanan angkutan Jabodetabek Airport Connexion (JA Connexion) sekaligus. Layanan dengan operator PT. Eka Sari Lorena Transport Tbk ini beroperasi dengan trayek Pasar Modern Intermoda BSD City, Kabupaten Tangerang menuju Bandara Halim Perdanakusuma dan Pasar Modern Intermoda BSD City, Kabupaten Tangerang menuju Bandara Soekarno Hatta.

Kedua layanan tersebut memiliki tarif masing-masing sebesar Rp. 60.000,-. Untuk JA Connexion dengan layanan BSD City – Bandara Soekarno Hatta beroperasi mulai pukul 05.00 s.d. 19.00 WIB dengan waktu keberangkatan tiap satu jam sekali. Sedangkan untuk JA Connexion tujuan Bandara Halim Perdanakusuma beroperasi mulai pukul 05.00 s.d. 17.00 WIB dengan waktu keberangkatan tiap satu jam sekali.

Untuk arah sebaliknya, layanan JA Connexion dari Bandara Soekarno Hatta ke BSD City beroperasi mulai pukul 08.00 s.d. 21.00 WIB. Sedangkan untuk layanan JA Connexion dari Bandara Halim Perdanakusuma ke BSD City beroperasi mulai pukul 08.00 s.d. 20.00 WIB. Untuk tahap awal, operator menyiapkan empat armada dengan tujuan Bandara Soekarno Hatta dan dua armada dengan tujuan Bandara Halim Perdanakusuma.

Bambang Prihartono, Kepala BPTJ, dalam sambutannya menyampaikan bahwa jumlah perjalanan orang per hari di Jabodetabek meningkat signifikan. “Pada tahun 2016, perjalanan orang per hari mencapai 47,5 juta orang. Sedangkan di tahun 2018 diperkirakan sudah mencapai 88 juta pergerakan per harinya,” ujar Bambang. “Untuk itu kita harus secepat mungkin menghadirkan layanan angkutan umum massal agar masyarakat mau berpindah dari kendaraan pribadi mereka,” lanjut Bambang.

Bambang juga menjelaskan jika penyediaan angkutan umum massal menuju bandara ini sesuai dengan amanat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor. 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ). Dalam Indikator Kinerja Utama (IKU) RITJ disebutkan bahwa pergerakan orang dengan angkutan umum harus mencapai 60% dari total pergerakan orang dan cakupan pelayanan angkutan umum di perkotaan mencapai 80% dari panjang jalan. “Dan penyediaan JA Connexion ini menjadi salah satu langkah untuk mencapai Key Performance Indicator (KPI) tersebut,” papar Bambang.

Bekerja, Berwisata, Dan Ke Bandara Naik Angkutan Umum Massal

Dalam rangka meningkatkan pangsa angkutan umum massal, BPTJ memiliki program meliputi TransJabodetabek Premium (Perkotaan), Jabodetabek Residence Connexion (JRC) dan Jabodetabek Airport Connexion (JAC). Seluruh layanan tersebut bertujuan untuk mendekatkan layanan angkutan umum massal kepada masyarakat. Diharapkan, penyediaan layanan ini dapat mendorong masyarakat untuk beralih menggunakan angkutan umum massal. Di tengah upaya BPTJ mendekatkan layanan angkutan umum massal point to point ke permukiman, bandara, maupun pusat perekonomian, BPTJ juga mendorong masyarakat untuk menggunakan angkutan umum saat berwisata.  Adapun yang baru saja resmi diluncurkan ialah trayek Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan menuju Taman Safari Indonesia, Kabupaten Bogor.

Disisi lain peluncuran layanan angkutan umum massal JA Connexion ini merupakan langkah BPTJ dalam mengimplementasikan Gerakan #JalanHijau. Inisiasi Gerakan #JalanHijau  dimulai BPTJ melalui serangkaian kegiatan kampanye pada 16 Agustus – 1 September 2019 lalu. Gerakan #JalanHijau adalah gerakan mengajak masyarakat mengurangi semaksimal mungkin penggunaan kendaraan pribadi untuk beralih menggunakan angkutan umum massal dan membudayakan berjalan kaki. Tujuan akhir dari kegiatan ini adalah mewujudkan transportasi ramah lingkungan yang telah diamanatkan dalam Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ). Diharapkan Gerakan Jalan Hijau tidak terbatas pada rutinitas harian masyarakat, namun juga pada saat berwisata maupun berpergian ke bandara.

Selain berangkat dari isu transportasi, Gerakan #JalanHijau juga berlatar belakang isu kesehatan.  Fakta menunjukkan bahwa tingginya penggunaan kendaraan pribadi (bermotor) menyebabkan polusi udara parah yang berdampak serius bagi kesehatan. Tingginya penggunaan kendaraan pribadi terutama sepeda bermotor ini juga menyebabkan kecenderungan masyarakat menjadi kurang bergerak sehingga semakin berisiko terkena penyakit non infeksi pada usia muda. Pernyataan ini pun diperkuat dengan data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan bahwa faktor resiko terkena penyakit non infeksi di Indonesia karena kurang gerak fisik meningkat dari semula 26,1 % (2013) menjadi 33,5 % (2018).