(15/10/2020) Selama masa pandemi Covid-19,  masyarakat kian sadar bahwa penggunaan sepeda sebagai alat transportasi bukan  sekadar hobi atau memenuhi gaya hidup, tapi juga bisa bermanfaat untuk mendukung mobilitas. Kini, masyarakat kian  terbiasa menjadikan sepeda sebagai alat transportasi alternatif, terutama untuk jarak-jarak yang masih terjangkau. Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek Kementerian Perhubungan (BPTJ Kemenhub) Polana B. Pramesti menilai banyaknya masyarakat yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi merupakan fenomena yang positif. “Karena itu, BPTJ akan mengupayakan kebiasaan bersepeda masyarakat yang mulai tumbuh menjadi budaya bersepeda,” demikian dikatakan Polana ketika meninjau kesiapan Bus Jabodetabek Residence  Connexion (JR Connexion) yang menyediakan bagasi gratis bagi penumpang yang membawa sepeda lipat di Halte Hollywood Junction Jababeka, Cikarang Kabupaten Bekasi, Rabu (14/10). Turut mendampingi Polana, Kepala Humas BPTJ Budi Rahardjo, perwakilan PPD, Sinar Jaya, dan PT Jababeka Infrastruktur. 

Lebih lanjut Polana mengatakan, antusiasme masyarakat yang tinggi dalam bersepeda tidak hanya terkait dengan masalah kesehatan selama masa pandemi, tapi juga menyangkut pada sistem transportasi massal perkotaan. Dalam sistem transportasi massal, kata Polana,  bersepeda dan berjalan kaki merupakan bentuk dari Non Motorized Transportation (NMT) yang digunakan pada tahapan first mile dan last mile saat berproses menggunakan transportasi publik. ”Pemanfaatan Non Motorized Transportation akan mendatangkan benefit kesehatan secara publik maupun personal. Secara publik akan mengurangi polusi dan secara personal akan meningkatkan gerak tubuh untuk kesehatan,” tutur Polana.

Menurut Polana, secara garis besar ada tiga manfaat utama NMT dengan bersepeda. Pertama, manfaat lingkungan hidup karena bisa menghemat Bahan Bakar Minyak (BBM), mengurangi polusi udara dan kemacetan. Dalam pengembangan sistem transportasi perkotaan di dunia, NMT menjadi bagian  transportasi ramah lingkungan dan berkelanjutan merupakan alternatif transportasi yang lazim dikembangkan. Kedua, manfaat ekonomi karena efisien biaya transportasi dan kemacetan, efisien biaya kesehatan, dan efisien kebutuhan parkir. Ketiga, manfaat sosial dan kesehatan, karena meningkatkan kualitas kesehatan, penurunan angka kecelakaan, peningkatan kualitas hubungan sosial dan peningkatan karakter (disiplin, mandiri, dan tidak mudah menyerah).

Dalam kunjungannya, Polana memberikan dua stiker, Naik JR Connexion  Sepeda In-Aja dan Bersama Kita Terapkan 3M Dalam Bertransportasi. Dua stiker yang diberikan kepada para operator bus JR Connexion, PPD dan Sinar Jaya akan ditempelkan pada badan bus dan kaca depan bus. Pembagian dua stiker tersebut merupakan bagian dari kampanye penerapan protokol kesehatan dalam transportasi publik.  Polana mengapresiasi para operator Bus JR Connexion yang telah menyediakan bagasi gratis untuk penumpang yang membawa sepeda lipat. “Mudah-mudahan ketersediaan bagasi gratis ini akan bisa segera dimanfaatkan penumpang yang ingin membawa sepeda lipatnya ke kantor atau tempat-tempat lainnya dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan,” tutur Polana.

Tidak hanya meninjau dan mengecek langsung kesiapan bus, Polana juga mencoba langsung  bagasi yang akan digunakan untuk tempat sepeda. Setelah melipat sepedanya, dibantu helper bus, Polana memasukkan sepedanya ke dalam bagasi bus. Setelah terpasang rapi, untuk keamanan  sepeda kemudian diikat agar tidak bergeser saat bus berjalan. Para operator bus menyediakan dua macam bagasi yang disediakan untuk penumpang yang membawa sepeda lipat. Operator bus PPD menyediakan bagasi sepeda di dalam bus dan dapat menampung sekitar 6 sepeda lipat, sementara operator Sinar Jaya menyediakannya di bagasi samping bawah dan juga dapat menampung 6 sepeda lipat. Semua fasilitas tersebut diberikan gratis untuk  penumpang yang membawa sepeda. 

Pengamat perencanaan wilayah Yayat Supriatna mengapresiasi upaya BPTJ mendorong operator bus JR Connexion menyediakan bagasi gratis untuk penumpang yang membawa sepeda lipat. Menurutnya, rencana tersebut merupakan respon sekaligus inovasi yang tepat dari BPTJ dalam melihat fenomena yang berkembang serta kebutuhan masyarakat. Yayat berharap, keberadaan bus JR Connexion yang menyediakan bagasi gratis sudah tersedia dan tersebar merata di setiap tempat. “Jadi tidak hanya di satu tempat saja seperti di Jababeka, tapi juga di Sentul atau di Bogor. Dengan begitu, saya nanti bisa naik bus ke Jakarta sambil bawa sepeda,”  pungkas Yayat.*