(Jakarta, 19-08-2019) Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) terus berupaya untuk mengajak masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi menuju angkutan umum massal. Salah satu upaya yang tengah dilakukan BPTJ adalah dengan pelaksanaan kegiatan kampanye #JalanHijau. Kegiatan dilakukan dengan turun langsung ke jalan yang berlangsung mulai tanggal 19 hingga 22 Agustus 2019 di empat titik meliputi Jalur Pedestrian Dukuh Atas, Stasiun Juanda, Simpang Bekasi Cyber Park (BCP) Bekasi, dan Simpang Cijago, Depok.

"Selain mengajak masyarakat untuk berjalan kaki dan naik angkutan umum massal, melalui Kampanye Jalan Hijau ini kami juga mengapresiasi masyarakat Jabodetabek yang telah turut andil dalam mengurangi kemacetan dan polusi udara  dengan berjalan kaki dan naik angkutan umum massal,” ujar Kepala BPTJ, Bambang Prihartono.  Pada kegiatan tersebut, BPTJ melibatkan Taruna Taruni dari Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) dalam mengapresiasi sekaligus mempersuasi masyarakat melalui pembagian masker, pin, kipas, hingga tumbler.

Bambang  menjelaskan bahwa ide kampanye Jalan Hijau dilatarbelakangi oleh dua isu, yakni isu transportasi dan isu kesehatan/lingkungan. "Kita lihat kenyataan bahwa lalu-lintas semakin macet dan pemanfaatan angkutan umum massal dan aktifitas berjalan kaki belum maksimal. Bahkan masyarakat cenderung memilih menggunakan kendaraan bermotor untuk jarak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki,” Jelas Bambang.

Lebih lanjut Bambang menambahkan dari sisi isu kesehatan, fakta menunjukkan bahwa tingginya penggunaan kendaraan pribadi (bermotor) menyebabkan polusi udara parah yang berdampak serius bagi kesehatan. “Tingginya penggunaan kendaraan pribadi terutama sepeda bermotor ini juga menyebabkan kecenderungan masyarakat menjadi kurang bergerak sehingga semakin berisiko terkena penyakit non infeksi pada usia muda,” ujar Bambang. Pernyataan ini pun diperkuat dengan data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan bahwa faktor resiko terkena penyakit non infeksi di Indonesia karena kurang gerak fisik meningkat dari semula 26,1 % (2013) menjadi 33,5 % (2018).

“Oleh karena itu, kita pilih nama kampanye Jalan Hijau dengan pengertian bahwa apabila semakin banyak masyarakat yang shifting dari kendaraan pribadi ke angkutan umum massal dan berjalan kaki, maka akan memberi dampak positif bagi lingkungan yang identik dengan warna hijau,” ujar Bambang.

Uniknya, meskipun kegiatan ini bertajuk Jalan Hijau namun saat turun ke jalan seluruh petugas mengenakan kostum bernuansa kuning dan putih. Bambang pun beralasan bahwa  warna kuning sengaja dipilih sebagai simbol dari sinar matahari yang sesuai dengan pendekatan benefit kesehatan dan  dalam penyampaian pesan. “Saat pergi berkerja di pagi hari kita berjalan kaki dan naik angkutan umum massal, otomatis tubuh kita akan terpapar sinar matahari yang baik untuk kesehatan,”ujar Bambang. Sementara warna putih yang berarti bersih mewakili makna ketulusan dan kesediaan untuk melakukan aktifitas berjalan kaki dan menggunakan angkutan umum massal untuk kepentingan bersama.  “Saya berharap, semoga ketulusan masyarakat untuk berjalan kaki dan  naik angkutan umum massal ini bisa berdampak positif baik untuk kesehatan diri sendiri maupun lingkungan sekitar,” tutup Bambang.