TRANSPORTASI MASSAL HARUS JADI URBAN MOBILITY

Begitu banyak upaya yang dilakukan pemerintah sebagai upaya memindahkan angkutan pribadi ke angkutan massal di wilayah Jabodetabek. Saat ini saja pemerintah terus mengembangkan dan membangun angkutan massal perkotaan seperti LRT, MRT, BRT, KCJ dan double-double track.

Tapi segala upaya tersebut tidak akan berhasil mengurai kemacetan, jika tidak ada kebijakan lain yang bisa membatasi banyaknya jumlah kendaraan pribadi di jalan.

Bagaimanapun, Pemerintah harus terus berusaha membangun berbagai moda angkutan massal terlebih dahulu untuk kemudian memindahkan share penggunanya ke angkutan massal.

“Dalam jangka dekat, diharapkan share pengguna angkutan umum bisa mencapai 40 persen”, ujar Kepala BPTJ Elly Adriani Sinaga saat menjadi narasumber di acara diskusi yang mengangkat tema Mengatasi Macet di Jabodetabek, Ancol, Rabu (10/8).

Menurut Elly, dalam konsep angkutan perkotaan tidak hanya bisa dengan membangun LRT, MRT dan double-double track,  namun diperlukan konsep lain seperti mensubsidi angkutan perkotaan.

“Jika diperlukan, maka angkutan perkotaan di subsidi agar terjangkau. Ini targetnya untuk mengurangi pengguna motor dan mengurangi jumlah kecelakaan akibat motor”, ujar Elly.

Ditambahkan Elly, mengatasi kemacetan di jalan harusnya menggunakan konsep Transport Demand Management (TDM) yaitu memaksimalkan efisiensi sistem transportasi perkotaan melalui pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dan mendorong moda transportasi yang lebih efektif, sehat dan ramah lingkungan seperti angkutan umum dan kendaraan tidak bermotor.

Dalam kesempatan diskusi yang diadakan pada acara Pekan Inovasi Sains dan Teknologi di Discovery Hotel Ancol Jakarta Utara tersebut, Prof. Wimpy Santosa (pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia) menyatakan bahwa mengurangi kemacetan tidak hanya dengan teknik rekayasa lalin, namun bisa dilakukan dengan tidak membiarkan pedagang kaki lima berada di jalan arteri.

Kegiatan yang mengangkat tema  Dengan Inovasi Sains dan Teknologi Kita Percepat Pembangunan Infrastruktur menuju Masyarakat Sejahtera ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan sains dan teknologi dalam membangun inovasi-inovasi terbaru dalam menangani permasalahan infrastruktur.

Mendukung hal tersebut, BPTJ saat ini tengah menyiapkan TransJabodetabek Express. Dengan TransJabodatabek Express ini nantinya masyarakat yang berada di ujung kota Jakarta seperti misalnya Cibubur dapat masuk melewati jalur tol dengan konsep High Occupancy Vehicle (HOV) secara contra flow.

TransJabodetabek Ekspress juga nantinya tidak akan singgah disetiap shelter namun hanya beberapa shelter besar saja.

“Jadi waktu tempuhnya akan lebih cepat. Diharapkan ini akan menarik pengguna mobil untuk beralih ke angkutan umum. Dan juga fasilitasnya harus nyaman,” imbuh Elly.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn