PELAYANAN TERMINAL BIS HARUS SESUAI SPM

BPTJ akan melakukan pengawasan terminal agar kelayakannya sesuai SPM di PM 40 Tahun 2015. Survey pada 26-27 Mei lalu didapati masih banyak terminal tipe A di Jabodetabek yang kondisinya tidak layak. Beberapa terminal ditemukan tidak memiliki ruang istirahat bagi para sopirnya.
“Ketika dilakukan survey ternyata banyak para sopir yang baru istirahat 30 menit sambil main gaple di tanah lalu harus narik lagi. Dan saat diperiksa ternyata tekanan darahnya sangat tinggi. Itu sangat membahayakan”, kata Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek Elly Adriani Sinaga saat memberi keterangan pers usai menggelar FGD review terminal penumpang tipe A di Jabodetabek jelang Angkutan Lebaran 2016.
Kesepakatan yang di tandatangani oleh para pengelola terminal tersebut bertujuan agar kondisi terminal tipe A yang ada dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat untuk lebih baik lagi, harapannya kinerjanya pun dapat lebih baik.
Penyelenggara terminal harus memperhatikan keselamatan penumpang terutama dari segi sarananya, dalam hal ini ada beberapa point penting terkait kesiapan sarana sebelum diperbolehkan berangkat. Elly juga mengatakan akan mengecek masa uji berkala kendaraan. “Cek masa uji berkalanya, apakah masih berlaku. Cek muatan orang, harus sesuai dengan kapasitas tempat duduk mengingat dalam ini perjalanan jauh yang dilakukan, dan cek muatan yang berlebih”, tegas Elly.

Masalah pengaturan terminal ini memang rumit karena banyak unsur yang terkait. Sesuai konsep dasar untuk mempertemukan penumpang dan operator, terminal harus dapat dirancang untuk dapat terintegrasi dengan moda lain. Salah satu permasalahan mendasar yang ada di terminal adalah personil terminal itu sendiri, personil terminal harus merubah perilaku menjadi lebih baik dan lebih peduli serta menjiwai terminal tempat bertugasnya.
Kepada para kepala terminal, kepala BPTJ juga menghimbau adanya penertiban loket-loket di terminal agar tidak terlihat semrawut (berantakan) akibat transaksi pembelian tiket. Untuk itu sangat disarankan agar dilakukan penjualan tiket dengan system berbasis on-line.
Pengujian kondisi kesehatan pengemudi pun akan dilakukan dengan pengawasan tim dokter yang ditunjuk. Jam istirahat bagi pengemudi sesuai dengan ketentuan selama 4 jam setelah bekerja selama 8 jam. Tempat istirahat supir harus disediakan di setiap terminal. Fakta di lapangan saat ini belum ada tempat layak untuk istirahat para sopir. (iis)

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn