Kepala BPTJ: “Bersatu Untuk Tanah Abang Lebih Baik”

Jakarta – Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek terus melakukan pembahasan mengenai permasalahan yang terjadi di sekitar Tanah Abang. Setidaknya ada dua permasalahan yang disoroti yakni penataan lalu lintas dan penataan di kawasan Stasiun Tanah Abang. “Mari bersatu untuk mewujudkan Tanah Abang menjadi lebih baik” Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono pada acara Focus Group Discussion (FGD) Penataan Lalu Lintas dan Kawasan Tanah Abang di Millenium Hotel Sirih Jakarta Pusat mengajak para stakeholder untuk bersama-sama membenahi ‌Tanah Abang (4/1).

Setidaknya ada 110.000 penumpang yang datang dan pergi dari Stasiun Tanah Abang. Pergerakan manusia dari dan menuju ke stasiun menyebabkan konflik lalu lintas di sekitar Stasiun Tanah Abang sangat pelik hingga menimbulkan kemacetan yang cukup parah. “Pergerakan orang selama ini belum diatur dengan baik” jelas Kepala BPTJ yang biasa disapa dengan Bambang Pri. “Selain itu integrasi antar moda juga sangat penting, jadi setelah penumpang turun dari kereta mereka harusnya disambut oleh angkutan umum massal yang memadai” lanjut Bambang.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah pada FGD tersebut mengatakan bahwa pihaknya telah berupaya untuk terus membenahi kawasan Tanah Abang diantaranya adalah terus melakukan rekayasa lalu lintas agar kinerja lalu lintas dapat berjalan lancar.

Andri Yansyah juga memaparkan rencana jangka pendek yang akan dilakukan oleh pihak Dinas Perhubungan DKI Jakarta yaitu memberikan layanan shuttle bus dengan headway 4 menit sekali serta memberikan ruang bagi kendaraan bermotor beroda dua maupun kendaraan umum untuk berhenti.

Bambang Pri menjelaskan bahwa kawasan Tanah Abang perlu ditata secara komprehensif baik dari sisi transport maupun pemanfaatan ruang. Selain itu pemanfaatan jalan di kawasan Tanah Abang untuk kepentingan di luar kepentingan lalu lintas harus memperhatikan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan serta Undang-Undang No 38 Tahun 2006 tentang Jalan.

Konsep Transit Oriented Development dapat diterapkan di Tanah Abang. Bambang mengatakan bahwa dalam konsep pengembangan TOD kawasan Tanah Abang perlu diintegrasikan antara penataan stasiun Tanah Abang, penataan Tanah Abang sebagai pusat grosir dan penataan kawasan yang ada di dalamnya dan penataan/restrukturisasi angkutan umum yang ada.

“Penataan kawasan Tanah Abang sebaiknya mengacu pada rencana tata ruang DKI Jakarta, dan dilakukan secara konsisten dan terus menerus serta tidak selalu berubah-ubah sehingga mempunyai acuan yang jelas maka sebaiknya melibatkan semua pemangku kepentingan, baik dari unsur pemerintah, swasta dan masyarakat” jelas Bambang Pri

Lebih lanjut lagi Bambang Pri mengatakan bahwa penataan kawasan Tanah Abang sebaiknya memperhatikan pola pergerakan pejalan kaki, pola pergerakan kendaraan bermotor (termasuk parkir), pola layanan angkutan umum dan konektivitas antara stasiun Tanah Abang dengan pusat kegiatan.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn