BPTJ LAKUKAN MEDIASI TERKAIT TRANSJAKARTA KORIDOR 13

Jakarta (10/5/2017)- Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) berinisiatif Pemerintah Kota Tangerang dan Pemerintahan Kota DKI Jakarta untuk mendapatkan penyelesaian terkait uji coba TransJakarta koridor 13, rute Ciledug – Tendean yang dimulai sejak 6 Mei lalu.

Perlu diketahui bahwa Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi DKI Jakarta telah selesai melakukan pembangunan segmen jalan layang (elevated busway) Jl. Tendean – Batas Kota Ciledug sepanjang 10 km. Segmen jalan layang tersebut merupakan koridor 13 jalur TransJakarta.

Pemda Provinsi DKI Jakarta berencana mengoperasikan koridor 13 pada 22 Juni 2017 saat ulang tahun kota Jakarta.

Uji coba sudah direncanakan,namun terpaksa ditunda karena belum dikomunikasikan terlebih dahulu ke Pemerintah Kota Tangerang.

Terlebih adanya jalur TransJakarta tersebut membuat kemacetan di sekitar Ciledug makin parah.

Selain itu, Pemerintah Kota Tangerang meminta penundaan adanya bus tersebut karena ternyata pembangunan elevated busway nya tidak sampai ke Ciledug seperti dalam rencana, tetapi hanya sampai Cipulir.

Ketika BPTJ menghubungi Pemda Kota Tangerang, diketahui bahwa jika dibangun sampai CBS Ciledug, maka kemungkinan uji coba tersebut tidak akan bermasalah. Pada kenyataannya, uji coba koridor 13 juga memutari Puri Beta 2 dan CBD Ciledug yang sebenarnya telah dilarang oleh pemerintah kota Tangerang.

“Setelah berkomunikasi dengan Walikota Tangerang, kami segera cek lokasi. Ternyata memang lokasi halte bus ini mengakibatkan macet parah. Lalu kami pelajari untuk dibuatkan rekayasa lalu lintasnya,” kata Kepala BPTJ Elly Adriani Sinaga.

Elly mengatakan, Walikota Tangerang, Arif Wismansyah, sebenarnya tidak akan melarang beroperasinya TransJakarta di kawasan tersebut jika mengikuti rekayasa lalu lintas yang diusulkan oleh BPTJ.

Jadi menurut Arif hanya ditunda sampai rekayasa tersebut dipenuhi agar tidak terjadi kemacetan parah. Apalagi banyak warga Ciledug yang bekerja di Jakarta tentu adanya TransJakarta ini akan sangat membantu.

Berdasarkan permasalahan tersebut dan sesuai permintaan pemerintah kota Tangerang, BPTJ akhirnya mengundang rapat pihak TransJakarta, Dishub DKI Jakarta dan Pemerintahan Kota Tangerang untuk membahas masalah tersebut pada Rabu tanggal 10 Mei 2017 dan dipimpin langsung oleh Kepala BPTJ Elly Adriani Sinaga di ruang rapat BPTJ Jl. MT Haryono Kav.45-46 Jakarta.

BPTJ telah melakukan survei analisis dampak lalu lintas sebagai antisipasi dampak yang ditimbulkan apabila jalan layang Tendean-Batas Kota Ciledug dioperasikan. Survei dilakukan dengan inventarisasi ruas dan simpang di sepanjang Jl. HOS Cokroaminoto (Halte Adam Malik-CBD Ciledug) dan survei Classified Turning Movement Counting (CTMC) untuk dapat melakukan analisis kinerja jaringan jalan.

Hasil dari analisis BPTJ, saat ini di Jl. HOS Cokroaminoto jumlah kendaraan yang melintas sebanyak 93.000 kendaraan per 12 jam waktu survei (85% adalah kendaraan pribadi). Kondisi saat ini kecepatan kendaraan arah ke Jakarta 15 km/jam dan arah ke Tangerang 30 km/jam.

Pada turunan jalan layang (halte Adam Malik) terjadi penyempitan jalan dari 3.2 m menjadi 2.7 m, dengan 2 lajur jalan dan 2 arah dan posisi halte terletak di median tengah jalan.

Menurut BPTJ, apabila bus TransJakarta beroperasi dengan headway 5 menit dan bus berhenti selama 20 detik di halte Adam Malik maka kecepatan kendaraan di Jl. HOS Cokroaminoto arah ke Jakarta menjadi 4km/jam. Sementara itu, arah ke Tangerang 35 km/jam dengan panjang antrian kendaraan di Jl. HOS Cokroaminoto arah dari Jakarta sepanjang 200m dan antrian kendaraan sepanjang Jl. Raya Ciledug arah dari Tangerang sepanjang 1000m.

Saat ini PT. TransJakarta akan melakukan uji coba operasi bus TransJakarta dengan melakukan perputaran bus di Perumahan Puri Beta (jarak 2,2 km dari Halte Adam Malik).

Menurut BPTJ, dari kondisi hasil survei tersebut, BPTJ akan memberikan ijin operasi bus TransJakarta koridor 13 dengan beberapa persyaratan agar tidak terjadi keruwetan di wilayah tersebut.

Elly mengatakan, PT. TransJakarta harus melakukan pelebaran jalan pada sisi kanan-kiri Halte Adam Malik terlebih dahulu, dan memang lahannya sudah dibebaskan. “Saat ini terjadi penyempitan jalan dari 3.2 m menjadi 2.7 m, dikarenakan posisi Halte Adam Malik di tengah median jalan. Ini tentu menyebarkan macet,” kata Elly.

Menurut Elly, jika dilakukan pelebaran jalan, tentu akan mengurai antrian kendaraan baik dari arah Tangerang maupun arah Jakarta.

Bila perputaran Bus TransJakarta di Perumahan Puri Beta, dan membangun pulau-pulau pada median jalan sepanjang 2.2 km (Halte Adam – Puri Beta), menurut BPTJ, pengalihan tersebut membuat kecepatan kendaraan arah ke Jakarta akan meningkat dari 4km/jam menjadi 8 km/jam (kondisi jalan mix traffic).

“Apabila dilakukan rekayasa seperti itu, maka kemacetan akan terurai dan kecepatan kendaraan akan meningkat,” ujar Elly.

BPTJ sangat mendukung usulan Pemda Kota Tangerang untuk penambahan pembangunan jalan layang dari Halte Adam Malik-CBD Ciledug sepanjang 5.6 km.

Pembangunan jalan layang sepanjang 600 m dari 5,6 KM berada di wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Usulan tersebut sudah dilakukan penyusunan perencanaan DED, AMDAL, serta perijinan lain (termasuk ijin lingkungan dari Provinsi Banten) oleh Pemda Kota Tangerang yang dibiayai dari anggaran  Provinsi DKI Jakarta.

Dengan penambahan pembangunan jalan layang maka kecepatan kendaraan arah ke Jakarta menjadi 20km/jam dan arah ke Tangerang 32 km/jam, dengan asumsi terjadi perpindahan penggunaan kendaraan pribadi ke TransJakarta sebesar 30%, sehingga waktu tempuh perjalanan dari Kota Tangerang-Jl. Tendean yang saat ini mendekati 3 jam menjadi hanya berkisar 35 menit.

“Dengan penambahan pembangunan jalan layang dimaksud, beberapa pengembang dan pengelola daerah komersial di Kota Tangerang berminat turut serta menyediakan/membangun fasilitas penunjang jalur layang berupa halte/shelter, yang dilengkapi dengan ruang pengendapan bus Transjakarta dan park n ride. Kan malah bagus itu,” ungkap Elly.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn